Jumat, 18 Januari 2013

PRIORITAS AMAL YANG BERKELANJUTAN DAN IKHLAS

Alfaqih Warsono




 
إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى سَيِّدِنَا مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْن.
أَمَّابَعْدُ ، فَيَا أَيُّهَاالْحَاضِرُوْن رحمكم الله إِتَّقُواالله كَمَا قَالَ اللهُ تَعَالَى. أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْم. يَاأَيُّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتَّّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.
Mengawali khutbah Jumat kali ini, marilah kita senantiasa memperbaharui, meningkatkan dan memperbaiki keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT dengan sebaik-baiknya, tanpa niat sedikitpun untuk ingkar kepada Allah SWT.
 
Ma’asyiral muslimin, taqwa adalah merupakan satu bentuk amalan/perbuatan manusia yang dilakukan dalam rangka melakukan pendekatan diri dan keta’atan kepada Allah SWT. Perlu diketahui bahwa Al-Qur'an menjelaskan, sebagaimana yang dijelaskan oleh sunnah Nabi saw,  bahwa sesungguhnya perbuatan manusia di sisi Allah itu memiliki berbagai tingkatan.  Ada  perbuatan  yang  paling mulia  dan  paling  dicintai oleh Allah SWT daripada perbuatan yang lainnya. Allah SWT berfirman:
 
أَجَعَلْتُمْ سِقَايَةَ الْحَاجِّ وَعِمَارَةَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ كَمَنْ آمَنَ بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَجَاهَدَ فِي سَبِيلِ اللّهِ لاَ يَسْتَوُونَ عِندَ اللّهِ وَاللّهُ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ ﴿١٩﴾ الَّذِينَ آمَنُواْ وَهَاجَرُواْ وَجَاهَدُواْ فِي سَبِيلِ اللّهِ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ أَعْظَمُ دَرَجَةً عِندَ اللّهِ وَأُوْلَئِكَ هُمُ الْفَائِزُونَ ﴿٢٠﴾
 
   "Apakah (orang-orang) yang memberi minuman kepada orang-orang yang mengerjakan haji dan mengurus masjid al-Haram, kamu samakan dengan orang-orang yang beriman  kepada Allah dan hari kemudian serta berjihad di jalan  Allah? Mereka tidak sama di sisi Allah, dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada kaum yang zalim. Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan  Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih  tinggi derajadnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan."(at-Taubah: 19-20)
 
Dalam sebuah hadits shahih disebutkan, "Sesungguhnya iman  itu ada enam  puluh  lebih cabang --atau tujuh puluh lebih—yang paling tinggi di antaranya ialah la ilaha illa Allah, dan yang paling  rendah  ialah  menyingkirkan  penghalang  yang  ada dijalan."  Hal  ini   menunjukkan   bahwa   jenjang   iman   itu bermacam-macam nilai dan tingkatannya.
 
Penjenjangan   ini   tidak  dilakukan  secara  ngawur,  tetapi didasarkan atas nilai-nilai  dan  dasar-dasar  yang  dipatuhi. 
 
Di  antara  ukurannya  ialah  bahwa  jenis pekerjaan/amal ini harus pekerjaan yang paling langgeng (kontinyu); di  mana  pelakunya terus-menerus melakukannya  dengan  penuh  disiplin. Sehingga perbuatan seperti  ini  sama  sekali  berbeda  tingkat  dengan perbuatan  yang  dilakukan  sekali-sekali  dalam  suatu  waktu tertentu.
 
Sehubungan  dengan  hal  ini  dikatakan  dalam  sebuah  hadits shahih:
 
   "Amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang paling langgeng walaupun sedikit."
 
- عن عائشة رضي الله عنها أنها قالت: سئل النبي صلى الله عليه وسلم: أي الأعمال أحب إلى الله؟ قال: (أدومها وإن قل). وقال: (اكلفوا من الأعمال ما تطيقون).
 
Bukhari dan  Muslim  meriwayatkan  dan  Masruq  berkata,  "Aku bertanya kepada  Aisyah  r.a.,  Amalan  apakah  yang  paling dicintai  oleh  Nabi  saw?,  Aisyah  menjawab:  "Amalan yang langgeng."
 
Diriwayatkan dari 'Aisyah r.a. bahwa sesungguhnya Nabi saw masuk ke rumahnya, pada saat itu 'Aisyah sedang bersama dengan seorang perempuan.  Nabi saw bertanya, "Siapakah wanita ini?"   Aisyah  menjawab, "Fulanah yang sangat terkenal dengan shalatnya (yakni  sesungguhnya  dia  banyak  sekali melakukan shalat)."Nabi saw bersabda, "Aduh, lakukanlah apa  yang kamu mampu melakukannya. Demi Allah, Allah SWT tidak bosan sehingga kamu sendiri yang bosan."
 
   'Aisyah berkata, "Amalan agama yang paling dicintai olehnya ialah yang senantiasa dilakukan oleh pelakunya." 
 
Perkataan "aduh" dalam hadits tersebut  menunjukkan  keberatan beliau atas beban berat dalam beribadah, dan membebani diri di luar batas kemampuannya. Yang  beliau  inginkan  ialah  amalan yang  sedikit tapi terus-menerus dilakukan. Melakukan ketaatan secara terus-menerus sehingga  banyak  berkah  yang  diperoleh akan berbeda dengan amalan yang banyak tetapi memberatkan. Dan boleh jadi, amalan yang  sedikit  tapi  langgeng  akan  tumbuh sehingga  mengalahkan  amalan yang banyak yang dilakukan dalam satu waktu. Sehingga  terdapat  satu  peribahasa  yang  sangat terkenal  di  kalangan  masyarakat, "Sesungguhnya sesuatu yang sedikit tapi terus  berlangsung  adalah  lebih  baik  daripada amalan yang banyak tetapi terputus."
 
Itulah  yang  membuat Nabi saw memperingatkan orang-orang yang terlalu berlebihan dalam menjalankan agamanya dan sangat kaku; karena  sesungguhnya  Nabi saw khawatir bahwa orang itu akan bosan  dan  kekuatannya  menjadi  lemah,  sebab  pada  umumnya begitulah  kelemahan yang terdapat pada diri manusia. Dia akan putus di tengah jalan. Ia menjadi orang yang tidak  jalan  dan juga tidak berhenti.
 
Oleh karena itu, Rasulullah saw bersabda,
 
   "Hendaklah kamu melakukan amalan yang mampu kamu lakukan, karena sesungguhnya Allah SWT tidak bosan sehingga kamu menjadi bosan sendiri."
 
Beliau saw juga bersabda, "Ikutilah petunjuk yang sederhana (tengah-tengah)karena orang yang kaku dan keras menjalankan agama ini akan dikalahkan olehnya."
 
Sebab wurud hadits ini adalah seperti  apa  yang  diriwayatkan oleh  Buraidah yang berkata, "Pada suatu hari aku keluar untuk suatu keperluan, dan kebetulan  pada  saat  itu  aku  berjalan bersama-sama  dengan  Nabi  saw. Dia menggandeng tangan saya, kemudian kami bersama-sama pergi. Kemudian di depan  kami  ada seorang  lelaki  yang  memperpanjang  ruku' dan sujudnya. Maka Nabi  saw  bersabda,  Apakah  kamu  melihat  bahwa  orang  itu melakukan riya'?, Abu berkata, 'Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.' Kemudian beliau melepaskan  tanganku,  dan  membetulkan kedua  tangan  orang  itu  dan  mengangkatnya sambil bersabda, 'Ikutilah petunjuk yang pertengahan...'. Allah berfirman :
 
وَمَنْ أَحْسَنُ دِيناً مِّمَّنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لله وَهُوَ مُحْسِنٌ واتَّبَعَ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفاً وَاتَّخَذَ اللّهُ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلاً ﴿١٢٥﴾
 
(125). Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayanganNya. (QS An Nisa [4]: 125
 
Itulah sekelumit tentang bagaimana kita beramal agar diterima di sisi Allah. Beramal banyak disertai riya sehingga terasa berat lagi tidak merasakan kenikmatan beramal, atau beramal sedikit (syukur banyak) tetapi ikhlash dengan khusyu’ sehingga terasa ringan dan nikmat? Hanya kita sendiri yang bisa menjawabnya disaksikan Allah. 
 
Semoga Allah meridhoi niat baik kita untuk melakukan amal yang ikhlash dan semoga pula Allah memberi taufik atas usaha tersebut. Amin. 
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ.
 

BERCERMIN DENGAN MUSIBAH BADAI SANDY AMERIKA

Alfaqih Warsono







إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن. أَمّا بَعْدُ ...
يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
Mari kita bersyukur kepada Allah atas semua fasilitas yang telah diberikanNya kepada kita dalam hidup dalam kehidupan dunia ini. Manifestasi rasa syukur itu mari kita wujudkan dalam bentuk penghambaan, peribadatan dan amal shalih yang nyata dan sungguh-sungguh. Itulah bentuk taqarrub dan taqwa kepada Allah SWT.
Hadirin, baru-baru ini kita kita disuguhkan berita yang mengharukan dan menyedihkan sebagaimana dikhabarkan oleh :
Juga  dunia.news.viva.co.id/ : Badai Sandy Menerjang, 31 Tewas di AS dan Kanada - VIVAnews Badai Sandy menghantam daratan Amerika Serikat dan Kanada, menjelang Selasa 30 Oktober 2012 waktu setempat.  
Bagi orang yang beriman kepada Allah SWT. tentunya memahami, bahwa semua kejadian ini bukanlah hanya merupakan peristiwa alam semata. Akan tetapi, sudah seharusnya mereka meyakini dan menyadari bahwa semua ini ada kaitanya dengan segala apa yang telah dilakukan manusia itu sendiri. Semua ini erat kaitanya dengan segala dosa & Kemaksiatan yang dilakukan.
Allah tidak akan pernah mendzolimi atau merusak suatu negeri, bila mana penduduk yang ada dalam negara itu selalu berbuat kebaikan. 
وَمَا كَانَ رَبُّكَ لِيُهْلِكَ الْقُرَى بِظُلْمٍ وَأَهْلُهَا مُصْلِحُونَ ﴿١١٧﴾
"Dan Tuhanmu sekali-kali tidak akan membinasakan negeri-negeri secara dzalim, sedang penduduknya orang-orang yang beriman," ( QS. Hud ; 117 )
Dalam ayat lain Allah SWT menyatakan :
فَكُلّاً أَخَذْنَا بِذَنبِهِ فَمِنْهُم مَّنْ أَرْسَلْنَا عَلَيْهِ حَاصِباً وَمِنْهُم مَّنْ أَخَذَتْهُ الصَّيْحَةُ وَمِنْهُم مَّنْ خَسَفْنَا بِهِ الْأَرْضَ وَمِنْهُم مَّنْ أَغْرَقْنَا وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيَظْلِمَهُمْ وَلَكِن كَانُوا أَنفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ ﴿٤٠﴾
"Maka masing-masing mereka itu Kami siksa disebabkan dosanya, di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan diantara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan diantara mereka ada yang Kami benamkan kedalam bumi, dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak manganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri," ( QS. al-Ankabut; 40 ).

Hadirin,
Secanggih apapun teknologi yang digunakan manusia, dan sehebat apapun metode yang ditawarkan, sunguh semua itu tidak akan mampu mencegah kehendak Allah SWT untuk mendatangkan musibah ini. Mengapa demikian..? karena sesungguhnya Allah SWT sudah menawarkan satu metode yang akan mampu menghentikan segala musibah yang ada dan menggantinya dengan barakah dari sisi-Nya. Metode yang ditawarkan Allah tersebut adalah Iman dan Takwa.
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُواْ وَاتَّقَواْ لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ وَلَـكِن كَذَّبُواْ فَأَخَذْنَاهُم بِمَا كَانُواْ يَكْسِبُونَ ﴿٩٦﴾
QS. Al-a'raf[7]: 096. Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.
Firman Allah diatas mengandung perintah agar kita bertakwa kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa. Atau dalam bahasa lain, bahwa kita diperintah untuk takut kepada Allah dengan makna takut yang sebenarnya.
Takut kepada Allah bukan berarti kita harus bersembunyi, menghindari atau bahkan menjauh dari Allah SWT. Akan tetapi takut yang dimaksud disini adalah bahwa kita berusaha sekuat tenaga untuk mendekat dan berharap hanya kepada Allah. Dan sebaliknya, kita sangat dilarang untuk takut dan berharap kepada siapapun selain Allah itu sendiri.
جَزَاؤُهُمْ عِندَ رَبِّهِمْ جَنَّاتُ عَدْنٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَداً رَّضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ذَلِكَ لِمَنْ خَشِيَ رَبَّهُ ﴿٨﴾
AlBayyinah [98]: 008. Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah surga `Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepadaNya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya.

Hadirin,
Sebenarnya begitu banyak karunia Allah yang telah tercurah semenjak kita lahir sampai saat ini. Maka sangatlah wajar jika Allah SWT selalu mengingatkan akan hal itu dengan firman-Nya :
فَبِاَيِّ الآءِرَبِّكُــمَا تُكَــذِّبَنِ
"Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan …?"

 Kurang lebih 31 kali Allah mengulangi kalimat tersebut yang tertuang dalam surah Ar-Rahman, tentunya hal ini mengandung maksud untuk mengingatkan manusia.
Namun demikian, mengapa kebanyakan kita masih belum sadar akan kewajiban kita sebagai hamba. Kebanyakan kita masih mengingkari perintah-Nya. Kebanyakan kita masih enggan untuk mengingat-Nya. Bahkan kebanyakan kita masih belum bisa mensyukuri akan segala karunia-Nya dan terus bergelimang dengan kemaksiatan serta kedzoliman yang pada akhirnya berakibat bertambah jauhnya kita dengan Allah SWT.
Peristiwa BADAI yang terjadi akhir-akhir ini mungkin dimaksudkan agar manusia kembali ke jalan Allah. Mengabdi kepada Nya. Dan menjadi pelajaran bagi bangsa lain (termasuk Indonesia) untuk tidak mencoba kufur kepada Allah satu kalipun
قَدْ خَلَتْ مِن قَبْلِكُمْ سُنَنٌ فَسِيرُواْ فِي الأَرْضِ فَانْظُرُواْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذَّبِينَ
Ali Imran [3]:137. Sesungguhnya telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah Allah; karena itu berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).
قُلْ سِيرُواْ فِي الأَرْضِ ثُمَّ انظُرُواْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ ﴿١١﴾
Al Anam[6]: 011. Katakanlah: "Berjalanlah di muka bumi, kemudian perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan itu".
فَجَعَلْنَاهَا نَكَالاً لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهَا وَمَا خَلْفَهَا وَمَوْعِظَةً لِّلْمُتَّقِينَ ﴿٦٦﴾
AlBaqarah [2]: 066. Maka Kami jadikan yang demikian itu peringatan bagi orang-orang di masa itu, dan bagi mereka yang datang kemudian, serta menjadi pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa
وَمَا يَسْتَوِي الْأَعْمَى وَالْبَصِيرُ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَلَا الْمُسِيءُ قَلِيلاً مَّا تَتَذَكَّرُونَ ﴿٥٨﴾
AlGhafir[40]: 058. Dan tidaklah sama orang yang buta dengan orang yang melihat, dan tidaklah (pula sama) orang-orang yang beriman serta mengerjakan amal saleh dengan orang-orang yang durhaka. Sedikit sekali kamu mengambil pelajaran.
فَجَعَلْنَاهُمْ سَلَفاً وَمَثَلاً لِلْآخِرِينَ ﴿٥٦﴾
Az Zukhruf[43]: 056. dan Kami jadikan mereka sebagai pelajaran dan contoh bagi orang-orang yang kemudian.

Mudah-mudahan Allah membukakan mata hati kita untuk memahami semua scenario Allah dengan berbagai musibah yang ditampakkan kepada kita sebagai media meningkatkan keimanan. Dan mudah-mudahan Allah memberikan kekuatan untuk dapat mengikuti petunjukNya. Amin
بارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ

(Arsip, disampaikan di Masjid Al Ikhlash AKPER Pemda Indramayu)
.

HUJAN DAN SYUKUR NIKMAT

Alfaqih Warsono





إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى سَيِّدِنَا مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْن.
أَمَّابَعْدُ ، فَيَا أَيُّهَاالْحَاضِرُوْن رحمكم الله إِتَّقُواالله كَمَا قَالَ اللهُ تَعَالَى. أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْم. يَاأَيُّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتَّّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.
Mengawali khutbah Jumat kali ini, marilah kita senantiasa memperbaharui, meningkatkan dan memperbaiki keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT dengan sebaik-baiknya, tanpa niat sedikitpun untuk ingkar kepada Allah SWT.

Ma’asyiral muslimin, Saat ini adalah saat dimana Allah menurunkan hujan ke bumi. Hujan yang diturunkan Allah, di samping sebagai nikmat juga ada yang sebagai ujian adzab berupa bencana. Manusia, termasuk umat Islam, dalam menyikapi itu semua, ada yang tetap istiqomah dalam ketaqwaan dan ada pula yang kufur/ingkar. Padahal kita diperintah oleh Allah untuk tetap mensyukuri segala pemberian Allah.
وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ
Dan terhadap ni'mat Tuhanmu maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur). (Ad Dhuha [93]: 11)

Mengapa kita bersyukur atas nukmat Allah meski dalam situasi dan kondisi yang tidak menyenangkan atau mungkin tidak disukai?
Karena sesungguhnya manfaat dari bersyukur itu lsngdung terasa atau tidak langsung terasa akan kembali kepada diti mereka sendiri. Sebagai mana Allah berfirman dalam QS Luqman [31]:12,
وَلَقَدْ آتَيْنَا لُقْمَانَ الْحِكْمَةَ أَنِ اشْكُرْ لِلَّهِ وَمَن يَشْكُرْ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ
Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu: "Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji".

Begitu juga dalam ayat lain QS Ibrahim [14]: 7, Allah berfirman:
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu mema`lumkan: "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni`mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni`mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih".

Jadi akibat baik dari mensyukuri nikmat Allah yang akan kembali kepada diri orang yang bersyukur itu adalah berupa ditambahkanNya nikmat dengan nikmat-nikmat yang lain seperti  turunnya rahmat/kasih sayang Allah kepada mereka, tambahan intensitas dan frekwensi turunnya nikmat, keberkahan dari nikmat itu, dan sebagainya.

Sementara akibat buruk dari mengingkari nikmat Allah itu adalah adzab dan bencana yang akan menimpa mereka, berupa dicabutnya keberkahan dari nikmat yang telah diberikan kepada mereka, dicabutnya rahmat / kasih sayang sehingga timbul rasa tidak senang, dan dikurangiNya atau bahkan dihapusnya intensitas turunnya nikmat lain dari mereka.

Allah maha Rahman maha rahim, menyuruh kita untuk tidak lupa dan ingkar kepada Allah, agar tidak mengalami kerugian.
وَمَا بِكُم مِّن نِّعْمَةٍ فَمِنَ اللّهِ ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَإِلَيْهِ تَجْأَرُونَ ﴿٥٣﴾ ثُمَّ إِذَا كَشَفَ الضُّرَّ عَنكُمْ إِذَا فَرِيقٌ مِّنكُم بِرَبِّهِمْ يُشْرِكُونَ ﴿٥٤﴾ لِيَكْفُرُواْ بِمَا آتَيْنَاهُمْ فَتَمَتَّعُواْ فَسَوْفَ تَعْلَمُونَ ﴿٥٥﴾
053. Dan apa saja ni`mat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudharatan, maka hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan.
054. Kemudian apabila Dia telah menghilangkan kemudharatan itu daripada kamu, tiba-tiba sebahagian daripada kamu mempersekutukan Tuhannya dengan (yang lain),
055. biarlah mereka mengingkari ni`mat yang telah Kami berikan kepada mereka; maka bersenang-senanglah kamu. Kelak kamu akan mengetahui (akibatnya).
(QS An Nahl [16]:53-55.)

وَإِذَا مَسَّكُمُ الْضُّرُّ فِي الْبَحْرِ ضَلَّ مَن تَدْعُونَ إِلاَّ إِيَّاهُ فَلَمَّا نَجَّاكُمْ إِلَى الْبَرِّ أَعْرَضْتُمْ وَكَانَ الإِنْسَانُ كَفُوراً ﴿٦٧﴾ أَفَأَمِنتُمْ أَن يَخْسِفَ بِكُمْ جَانِبَ الْبَرِّ أَوْ يُرْسِلَ عَلَيْكُمْ حَاصِباً ثُمَّ لاَ تَجِدُواْ لَكُمْ وَكِيلاً ﴿٦٨﴾ أَمْ أَمِنتُمْ أَن يُعِيدَكُمْ فِيهِ تَارَةً أُخْرَى فَيُرْسِلَ عَلَيْكُمْ قَاصِفا مِّنَ الرِّيحِ فَيُغْرِقَكُم بِمَا كَفَرْتُمْ ثُمَّ لاَ تَجِدُواْ لَكُمْ عَلَيْنَا بِهِ تَبِيعاً ﴿٦٩﴾
067. Dan apabila kamu ditimpa bahaya di lautan, niscaya hilanglah siapa yang kamu seru kecuali Dia. Maka tatkala Dia menyelamatkan Kamu ke daratan, kamu berpaling. Dan manusia adalah selalu tidak berterima kasih.
068. Maka apakah kamu merasa aman (dari hukuman Tuhan) yang menjungkir balikkan sebagian daratan bersama kamu atau Dia meniupkan (angin keras yang membawa) batu-batu kecil? dan kamu tidak akan mendapat seorang pelindungpun bagi kamu,
069. atau apakah kamu merasa aman dari dikembalikan-Nya kamu ke laut sekali lagi, lalu Dia meniupkan atas kamu angin taupan dan ditenggelamkan-Nya kamu disebabkan kekafiranmu. Dan kamu tidak akan mendapat seorang penolongpun dalam hal ini terhadap (siksaan) Kami.
(QS Al Isra [17]: 67-69)

Fenomena yang sekarang terjadi harus disikapi dengan kembali kepada ketaatan dan ketaqwaan yang tinggi, yang ikhlash kepada Allah SWT. Semua dianalisis dengan pendekatan keimanan yang kuat. Kuncinya adalah banyak bersyukur dan jangan ingkar, serta istiqomah dalam melakukan ketaatan. Karena bersyukur yang hakiki adalah dengan melakukan ketaatan kepada Nya dengan ikhlash.

Mudah-mudahan Allah SWT memberikan kekuatan lahir dan bathin serta hidayah kepada kita untuk senantiasa mensyukuri nikmatNya dengan jalan meningkatkan bentuk pengabdian dan ketaatan kepada Allah yang tinggi. Sehingga bencana benar-benar dijauhkan dari kita semua. Amin

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ

Arsip, disampaikan dalam khutbah Jumat di Masjid baiturrahman Dermayu, Sindang, 18 January 2013.

Muhasabah di Akhir Tahun

Alfaqih Warsono
Naskah Oleh: H. Zulhamdi M. Saad, Lc




    الحَمْدُ للهِ الذِي جَعَلَ فِي تَعاقُبِ الليَالِي والأَيّامِ عِبْرَةً للمُعْتَبِرينَ، وفِي انصِرامِ الشُّهورِ والأَعْوامِ ذِكْرَى لِعبَادِه المؤمِنينَ، وأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَريكَ لَهُ، أَمَرَ عِبادَهُ بالاستِفادَةِ ممَّا مَضَى، وعَدَمِ الحَسْرَةِ علَى ما فَاتَ وانقَضَى، وأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ ورَسولُهُ المُرتَضَى، صَلَّى اللهُ وسلَّمَ علَيْهِ وعلَى آلهِ وأَصحابِهِ أَهلِ الرِّضَى، وعلَى مَنْ تَبِعَهم بإِحسَانٍ إِلى يَوْمِ البَعْثِ والقَضَاء. أَمّا بَعْدُ، فَيا مَعْشَرَ المؤمِنينَ، ويَا جُموعَ المُصلِّينَ، أُوصِيكُم بِتَقوى اللهِ رَبِّ العَالَمينَ،  يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ. أما بعد:
Kaum muslimin jamaah sholat jumat yang dimuliakan Allah
Alhamdulillah, kita panjatkan selalu puji syukur kepada Allah swt karena kita masih dapat hidup dalam kondisi beriman dan sebagai seorang muslim. Dari mimbar jumat ini khatib mengajak, marilah kita tingkatkan ketaqwaan kita kepada Allah, dengan berusaha menjalankan semua yang Allah perintahkan dengan hati yang ikhlas dan penuh ketaatan, serta berupaya sekuat tenaga meninggalkan larangan-larangan Allah dengan hati yang patuh dan penuh ketundukan.
Hadirin yang dimuliakan Allah
Orang beriman dalam beberapa kesempatan dan waktu, hendaklah berhenti sejenak untuk menghitung-hitung diri dan amal yang telah diperbuatnya pada hari-hari yang lalu, kemudian memperkuat keinginan untuk memperbaiki dan menambah amal kebaikannya. Allah berfirman:  
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
“Hai orang-orang beriman, takut kepada Allah dan hendaklah setiap jiwa memperhatikan apa yang telah disiapkannya untuk hari esok dan takut kepada Allah, karena Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.  (QS.  Al-Hasyr: 18)
Sesungguhnya hari-hari yang berlalu, bulan-bulan yang datang silih berganti, dan tahun-tahun berakhir kemudian datang tahun yang baru, semuanya berjalan dan berlalu dengan maksud dan mengandung  tujuan yang jelas dari Allah. Allah berfirman:
أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثاً وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لا تُرْجَعُونَ
“Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (QS. Al-mukminun: 115)
Sesungguhnya penciptaan ini alam, beserta isinya, beserta manusia yang ada di dalamnya, serta berlalunya hari yang datang silih berganti bukanlah untuk dilalui dengan permainan dan kesia-siaan belaka, sebagaimana hari-hari itu dilalui oleh mereka yang kafir kepada Allah. Bagi orang beriman tentu tidaklah sama, hari-hari yang mereka lalui ada ketaatan yang dilakukan dan dijalankan.. Dalam ayat yang lain Allah menegaskan:
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَاخْتِلاَفِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لآيَاتٍ لأُوْلِي الألْبَابِ
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.” (QS. Ali-Imran: 190)
Hidup manusia mempunyai tahapan dan dilalui setapak demi setapak namun pasti, dan orang-orang di dunia ini akan  berangkatan menuju akhirat, dan semua akan mendekat kepada kematian. Orang yang beruntung adalah yang selalu menghitung dirinya, maka beruntunglah mereka yang selalu memperbaiki diri dan istiqomah, memohon ampun kepada  Allah dari segala dosa dan salah.  Allah berfirman:
 مَنْ عَمِلَ صَالِحاً فَلِنَفْسِهِ وَمَنْ أَسَاء فَعَلَيْهَا وَمَا رَبُّكَ بِظَلامٍ لِّلْعَبِيدِ
“Barangsiapa yang mengerjakan amal yang saleh maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, maka (dosanya) untuk dirinya sendiri; dan sekali-kali tidaklah Rabb-mu menganiaya hamba-hambaNya.” (QS. Fushilat: 46)
Hadirin jamaah sholat jumat yang dimuliakan Allah
Seseorang tidak akan mencapai tingkat derajat taqwa sehingga ia menghisab dirinya atas apa yang telah diperbuatnya, tekad apa yang harus dilakukannya  dalam semua hal, lalu kembali kepada Allah dari dosa, dan bertobat dari kukurangannya dalam melakukan ibadah, karena muhasabah merupakan ciri bagi seorang muslim yang cerdas.
فَعَن شَدّادِ بنِ أَوسٍ  رَضِيَ اللهُ عَنهُ عَنِ النَّبِيِّ -صلى الله عليه وسلم-  أَنَّهُ قَالَ: الكيِّسُ مَنْ دَانَ نَفسَهَ وعَمِلَ لِما بَعْدَ المَوتِ، والعَاجِزُ مَنِ أَتْبَعَ نَفسَهُ هَواها وتَمنَّى علَى اللهِ الأَمانِي
Dari Syaddad bin Aus ra. Rasulullah saw.  bersabda: “Orang yang cerdas adalah orang yang selalu menginstospeksi diri dan beramal untuk kematiannya.  Orang yang lemah adalah yang mengikuti hawa nafsunya dan berangan-angan saja kepada Allah.”
Sabda Rosulullah ini menegaskan bahwa seorang yang hanya berangan-angan saja untuk melakukan amal sholeh dan tetap mengikuti keinginan nafsunya adalah mereka yang lemah, lemah karena dikalahkan oleh syahwat. Memang pada dasarnya setiap orang akan dan pernah melakukan kesalahan, berbuat dosa dan maksiat, namun dengan demikian kesadaran dari kekhilafan itulah yang akan membuat seseorang menjadi seorang mukmin yang baik tatkala ia melakukan taubat dngan sebenar-benarnya. Rosulullah bersabda:
كُلُّ بَنِي آدمَ خَطاءٌ، وخَيْرُ الخَطَّائينَ التَّوابونَ
 Rasulullah saw. bersabda: “ Semua anak-anak Adam pernah melakukan kesalahan, dan sebaik-baik oang yang salah adalah yang bertaubat.”  (HR. Ibnu Majah dan Darimi)
Hendaklah  seseorang segera bertobat dari kesalahannya, meminta ampunan dan berusaha lari meninggalkan dosa dan siksa akhirat ketika masih ada kesempatan ketika hidup di dunia, karena jika tidak berusaha untuk lari dari siksa semenjak di dunia, maka ia tidak akan dapat lagi lari dari siksa di akhirat kelak, tak akan ada peluang dan jalan lagi  untuk lari dari azab Allah,  setiap anggota badannya akan dibelenggu dan bersaksi kepada Allah, Allah swt. berfirman:
حَتَّى إِذَا مَا جَاءُوهَا شَهِدَ عَلَيْهِمْ سَمْعُهُمْ وَأَبْصَارُهُمْ وَجُلُودُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ، وَقَالُواْ لِجُلُودِهِمْ لِمَ شَهِدتُّمْ عَلَيْنَا قَالُواْ أَنطَقَنَا اللَّهُ الَّذِى أَنطَقَ كُلَّ شيء
Sehingga apabila mereka sampai ke neraka, pendengaran, penglihatan dan kulit mereka menjadi saksi terhadap mereka tentang apa yang telah mereka kerjakan. Dan mereka berkata kepada kulit mereka: "Mengapa kamu menjadi saksi terhadap kami?" Kulit mereka menjawab: "Allah yang menjadikan segala sesuatu pandai berkata telah menjadikan kami pandai (pula) berkata, dan Dia-lah yang menciptakan kamu pada kali pertama dan hanya kepada-Nya lah kamu dikembalikan." (QS. Fushilat: 20-21)
Hadirin siding sholat jumat yang berbahagia
Bahkan  bumipun akan menceritakan setiap kejadian yang ada di dalamnya. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu hurairah bahwa Rosulullah suatu ketika membaca firman Allah:
يَوْمَئِذٍ تُحَدّثُ أَخْبَارَهَا
“Pada hari itu bumi menceritakan beritanya.” (QS. Surat Al-Zilzalah: 4)
Para sahabatnya radhiyallahu ‘anhum bertanya”, wahai Rasulullah, apa yang dimaksud dengan menceritakan setiap kejadiannya? Rosulullah menjawab: “
أَنْ تَشْهَدَ علَى كُلِّ عَبْدٍ أَو أَمَةٍ بِما عَمِلَ علَى ظَهْرِها، تَقولُ: عَمِلْتَ كَذا وكَذا، فِي يَوْمِ كَذا وكَذا
“Akan bersaksi setiap hamba atau setiap umat terhadap apa yang telah dilakukannya di atas punggungnya, lalu berkata: ia melakukan ini dan itu pada hari ini dan hari itu.” (HR. Tirmidzi, Ahmad dan Ibnu Hibban)
Khalifah Umar bin Al-Khattab  ra pernah mengucapkan kalimat yang sangat populer untuk menjadi renungan bersama:
حَاسِبوا أَنفُسَكُم قَبْلَ أَنْ تُحاسَبوا، وزِنوها قَبْلَ أَنْ توزَنوا، وتأَهبوا لِلعَرْضِ الأَكبَرِ علَى اللهِ
“Hitunglah dirimu sebelum dihitung, dan timbanglah amalmu sebelum ditimbang, dan bersiaplah untuk dihadapkan kepada Allah pada hari penghadapan yang besar.” Sebagaimana firman Allah:
يَوْمَئِذٍ تُعْرَضُونَ لاَ تَخْفَى مِنكُمْ خَافِيَةٌ
“Pada hari itu kamu dihadapkan (kepada Tuhanmu), tiada sesuatupun dari keadaanmu yang tersembunyi (bagi Allah)”. (QS. Al-Haaqoh: 18)
Kaum Muslimin Jamaah Sholat Jumat yang berbahagia
Oleh sebab itu pada kesempatan jumat  kali ini, di saat kita telah berada di penghujung tahun 1430 H dan di akhir tahun 2009 M ini, minimal ada tiga hal yang perlu menjadi renungan kita. Agar hari-hari yang telah berlalu dan hari-hari yang akan datang pada tahun yang baru akan membuat kita sadar bahwa sesungguhnya setiap jiwa tidak dibiarkan saja hidup semaunya, hidup yang dilalui akan dipintai pertanggungan jawab  di akhirat kelak.
Hal pertama, yang harus menjadi perhatian dan dihitung oleh setiap orang beriman dari dirinya adalah: Apa yang telah ia lakukan untuk dirinya dari amal sholeh pada tahun ini? Apakah ia termasuk orang yang dapat berbahagia, karena telah mengisinya dengan ketaatan di setiap hari-harinya, bulan-bulannya, pada setiap moment ibadah pada tahun lalu dari ibadah sholat, inadah puasa, menunaikan kewajiban zakat, ibadah haji dan kurbannya dengan sungguh-sungguh dan penuh ketaqwaan? Atau bersedih dan menangislah bagi yang teramat banyak melalaikan kenikmatan tahun yang berlalu ini dengan kemaksiatan, kedurhakaan, bahkan tidak mengindahkan syariat-syariat Allah dengan penuh rasa takut kepada-Nya. Allah berfirman:
وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا، فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا، قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّاهَا، وَقَدْ خَابَ مَن دَسَّاهَا
“dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya. (QS. Asy-Syams: 7-10)
Hadirin yang berbahagia
Hal kedua perlu menjadi bahan renungan kita, adalah keluarga dan rumah kita. Setiap orang hendaklah bertanya kepada dirinya masing-masing? Apakah yang telah ia berikan untuk keluarganya? Sudahkah cahaya iman ia bawa masuk ke dalam rumahnya dengan bersama-sama keluarga menuju ketaatan kepada Allah? Karena hendaklah setiap rumah seorang muslim menjadi titik tolak kebaikan bagi dirinya dan keluarganya. Jika rumahnya hampa dari siraman ayat-ayat Al-Quran, bahkan tidak pernah diperdengarkan Al-Quran selama satu tahun yang lalu, maka sangat wajarlah jikalau merasakan rumah itu laksana kuburan yang tidak ada ketenangan di dalamnya, bahkan dihantui oleh rasa takut dan was-was. Rosulullah bersabda:
عن عبد الرحمن بن سابط قال قال رسول الله صلى الله عليه و سلم البيت الذي يقرأ فيه القرآن يكثر خيره ويوسع على أهله ويحضره الملائكة ويهجره الشياطين وإن البيت الذي لا يقرا فيه يضيق على أهله ويقل خيره ويهجره الملائكة ويحضره الشياطين .
Dari Abdurrahman bin Sabith, Rosulullah besabda: “Rumah yang dibacakan di dalamnya Al-Quran akan anyak kebaikannya, diluaskan bagi penghuninya, dihadiri oleh malaikat dan setan pergi darinya. Dan rumah yang tidak dibacakan di dalamnya Al-Quran, maka akan merasa sempitlah penghuninya, sedikit kebaikan di dalamnya, malaikat pergi darinya dan dihuni oleh setan. (HR. Abdul Razak dan Dailami)
Hal ketiga yang perlu kita hitung-hitung dan instospeksi adalah hak tetangga dan masyarakat dan kewajiban kita kepada mereka. Apakah kita  sudah menyampaikan amanat yang diembankan kepada kita dengan baik, ataukah  kita khianati amanat tersebut? Sudahkah hak-hak bertetangga dan bermasyarakat kita tunaikan dengan baik? Jika belum bermohonlah ampunan kepada Allah atas setiap kelemahan kita dalam menjalankan kewajiban terhadap sesame hamba beriman. Sabda Rosulullah berikut cukuplah menjadi acuan kita dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ : حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ سِتٌّ. قِيلَ مَا هُنَّ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ : إِذَا لَقِيتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ وَإِذَا اسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْ لَهُ وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اللَّهَ فَسَمِّتْهُ وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ وَإِذَا مَاتَ فَاتَّبِعْهُ.
 Dari Abu Hurairah ra. Rosulullah saw bersabda: Hak muslim atas muslim yang lain ada enam. Sahabat bertanya, apakah itu Ya Rosulullah? Rosul menjawab: Apabila bertemu ucapkanlah salam, apabila ia mengundangmu maka penuhilah, apabila meminta nasehat kepadamu, nasehatilah, apabila sakit jenguklah dan apabila meninggal dunia hantarlah jenazahnya. ( HR. Muslim)
 Kehidupan individual saat ini yang cenderung membuat satu sama lain tidak saling kenal bahkan menaruh curiga, hal ini sangat bertolak belakang dan jauh dari nilai-nilai mulia agama islam. Sehingga terlihat kehidupan ukhuwah islamiyah terasa hambar dan mulai memudar.  
 Semoga khutbah singkat ini menjadi sedikit renungan kita di akhir tahun untuk menapaki tahun baru 1431 H dan tahun 2010 M dengan lebih baik. Menanamkan keinginan kuat dalam dada untuk menjadi seorang hamba yang taat kepada Allah,dapat membawa dan memberikan kebaikan bagi keluarga dan masyarakat. Amiin ya rabbal alamiin.
 أقُولُ قَوْلي هَذَا وَأسْتغْفِرُ اللهَ العَظِيمَ   لي وَلَكُمْ،   فَاسْتغْفِرُوهُ   يَغْفِرْ لَكُمْ    إِنهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ،  وَادْعُوهُ يَسْتجِبْ لَكُمْ   إِنهُ هُوَ البَرُّ الكَرِيْمُ.

TAHUN BARU DAN UMUR

Alfaqih Warsono



الحمد لله العليِّ العظيم القادر، هو الأوَّل والآخر والباطن والظاهر، عالِمُ الغيب والشهادة  الْمُطلِّّعُ على السرائروالضمائر. خَلَقَ فقَدَّرَ ودَبَّرَ فيَسَّر، فكُلُّ عَبدٍ الى مَا قدَّرَهُ عليه وقَضَاه صَائِرٌ. أحمَدُه سبحانه على خَفِيِّّ لُطْفِه، وجَزِيلِ بِرِّّهِ الْمُتَظَاهِر.
اشهد ان لااله الا الله وحده لاشريك له ولاوَلَدَ ولا مُظَاهِر. و اشهد ان محمدا عبده ورسوله صاحِبُ الآياتِ والمعجزات والبَصائر. اللهم صل على عبدك ورسولك محمد وعلى آله واصحابه ومَن عَلى سَبيله الى الله سائر. وسلَّم تسليما كثيرا. أما بعد: اتقوا الله
Sebentar lagi kita akan mengahiri tahun milady 2012 dan memasuki 2013, yang berarti bilangan umur kita akan bertambah 1 thn dari tahun ini. Namun, sesungguhnya jatah kesempatan hidup kita menjadi berkurang. Berangkat dari itu, semakin berkurang jatah umur kita maka semakin dekat kita menghadap Allah. Maka jadilah kita orang yang pandai mengambil kesempatan untuk banyak mencari bekal untuk mengahadapi pertemuan denganNya. Jangan kita menyia-nyiakan kesempatan itu sampai habis masanya, yakni kematian. Rasulullah mengingatkan dengan sabdanya:
 اغتنم خمسا قبل خمس شبابك قبل هرمك وصحتك قبل سقمك وغناءك قبل فقرك وفراغك قبل شغلك وحياتك قبل موتك هذا حديث صحيح على شرط الشيخين (مستدرك الحاكم (7846))
Jagalah 5 perkara sebelum datang 5 perkara lainnya, yaitu:
  1. masa mudamu sebelum masa tuamu datang
  2. masa sehatmu sebelum masa sakit datang
  3. masa kayamu sebelum masa fakirmu datang
  4. masa sempatmu sebelum masa sibukmu datang
  5. masa hidupmu sebelum masa kematianmu datang

Adapun bekal utk menghadap Allah sebagaimana Allah perintahkan adalah bekal taqwa
وَتَزَوَّدُواْ فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى وَاتَّقُونِ يَا أُوْلِي الأَلْبَابِ
Albaqarah [2]: 197. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal.

Perlu kita camkan baik-baik bahwa umur yang panjang merupakan modal untuk meraih kedudukan yang tinggi di sisi Allah, jika panjangnya umur diisi dengan taqwa, ibadah dan beramal shalih yang dibungkus dengan keimanan yang kuat. Namun jika umur yang panjang dipenuhi dengan keburukan amal, malas ibadah karena lemahnya iman, maka pemiliknya menjadi orang yang paling buruk. Rasul menyampaikan konsep umur ketika ditanya siapakan orang yang paling baik (ayyun naasi khoir)? :
من طال عمره وحسن عمله. قال فأيّ الناس شرّ؟ قال: من طال عمره وساء عمله. رواه أحمد والترمذي والحاكم وصححه الباني في صحيح الرغيب والترهيب.
Orang yang paling baik adalah orang yang panjang umurnya dan baik amalnya. Lalu ditanya lagi: siapa orang yang paling buruk?  Beliau menjawab : orang yang berumur panjang dan buruk amalnya.

Orang yang paling baik adalah orang yang panjang umurnya dan baik amalnya karena seiring banyaknya kebaikan yang ia lakukan maka pahalanya dan derajatnya di sisi Allah juga bertambah. Begitu sebaliknya seiring dengan keburukan yang ia lakukan maka dosa dan kehinaannya di sisi Allah juga bertambah.

Kita mesti memiliki kecerdasan mensiasati kesempatan yang Allah berikan. Kita tidak akan merasa bangga dan bahagia ketika melewati pergantian tahun sedangkan masih banyak amal buruk daripada amal baik, sebagaimana  orang-orang berpesta pora merayakannya dengan berlumuran dosa lama dan dibalut dengan dosa baru tanpa adanya ihtisab (introspeksi diri). Kita semestinya melakukan refleksi terhadap seberapa banyak pada tahun ini kita dekat dengan Allah, banyak melakukan kebaikan dan beribadah dengan kualitas terbaik, jika belum kita mesti melakukan program dan perencanaan dengan niat dan I’tiqad yang kuat untuk melakukannnya pada tahun yang akan datang ini, mulai sekarang, secara sungguh-sungguh jika Allah masih memberi kesempatan hidup.

Janganlah kita malas mengevaluasi amal perbuatan kita ketika masih hidup, sebab jika kiamat sudah  datang, maka kita akan mempertanggungjawabkan dan memperhitungkan amal tersebut di hadapan Allah.Lalu bagaimana kita bisa bahagia? Allah berfirman:
وَكُلَّ إِنسَانٍ أَلْزَمْنَاهُ طَآئِرَهُ فِي عُنُقِهِ وَنُخْرِجُ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كِتَاباً يَلْقَاهُ مَنشُوراً ﴿١٣﴾ اقْرَأْ كَتَابَكَ كَفَى بِنَفْسِكَ الْيَوْمَ عَلَيْكَ حَسِيباً ﴿١٤﴾ مَّنِ اهْتَدَى فَإِنَّمَا يَهْتَدي لِنَفْسِهِ وَمَن ضَلَّ فَإِنَّمَا يَضِلُّ عَلَيْهَا وَلاَ تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّى نَبْعَثَ رَسُولاً ﴿١٥﴾

Al Isra[17]: 013. Dan tiap-tiap manusia itu telah Kami tetapkan amal perbuatannya (sebagaimana tetapnya kalung) pada lehernya. Dan Kami keluarkan baginya pada hari kiamat sebuah kitab yang dijumpainya terbuka. 014. "Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai penghisab terhadapmu." 015. Barangsiapa yang berbuat sesuai dengan hidayah (Allah), maka sesungguhnya dia berbuat itu untuk (keselamatan) dirinya sendiri; dan barangsiapa yang sesat maka sesungguhnya dia tersesat bagi (kerugian) dirinya sendiri. Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain, dan Kami tidak akan meng`azab sebelum Kami mengutus seorang rasul.

KHUTBAH KEDUA JUMAT (Arsip naskh 2)

Alfaqih Warsono





إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى سَيِّدِنَا مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْن.
أَمَّابَعْدُ ، فَيَا أَيُّهَاالْحَاضِرُوْن رَحِمَكُمُ الله، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى الله وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْن. وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى صَلَّى عَلَى نَبِيِّهِ قَدِيْمًا، وَأَمَرَنَا بِذَالِكَ إِرْشَادًا لَنَا وَتَعْلِيْمًا. قَالَ اللهُ تَعَالَى، أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْم. إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً ﴿الأحزاب: ٥٦﴾  
اَللهُمّ صَلّ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ فِي الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
وَارْضَ اللهُمَّ عَنِ الأَرْبَعَةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْن، أَبِيْ بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِي وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالْقَرَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ، وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ، وَتَابِعِهِمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَعَلَيْنَا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ. آمِيْن.
اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، اَلأَحِيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ، يَاقَاضِيَ الْحَاجَاتِ وَغَافِرَالذُّنُبِ وَالْخَطِيْئاَت، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
وَالْحَمْدُ للهِ رّبِّ الْعَالَمِيْن.
عِبَادَ اللهِ ..  إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. أُذْكُرُوااللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْاهُ عَلَى نِعَامِهِ يَزِدْكُمْ وَاسْئَلُوْاهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَر.

KHUTBAH KEDUA JUMAT (naskah arsip)

Alfaqih Warsono



الْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ، وَالعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِيْنَ، وَلاَ عُدْوَانَ إِلاَّ عَلَى الظَّالِمِيْنَ، وَنَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَلِيُّ الصَّالِحِيْنَ، وَنَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ إِمَامُ الأَنبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، وَأَفْضَلُ خَلْقِ اللهِ أَجْمَعِيْنَ، صَلَوَاتُ اللهِ وَسَلاَمُهُ عَلَيْهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَالتَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ 
  أَمَّا بَعْدُ : فَيَا عِبَادَ اللهِ   اتَّقوا اللهَ  وأَصلِحوا أَمْرَ دِينِكم ومعَاشِكم، وتَفكَّروا فِي مَصِيرِكم ومَآلِكم.   هَذَا وَصَلُّوْا وَسَلِّمُوْا عَلَى إِمَامِ الْمُرْسَلِيْنَ، وَقَائِدِ الْغُرِّ الْمُحَجَّلِيْنَ، فَقَدْ أَمَرَكُمُ اللهُ تَعَالَى بِالصَّلاَةِ وَالسَّلاَمِ عَلَيْهِ فِي مُحْكَمِ كِتَابِهِ حَيْثُ قَالَ عَزَّ قَائِلاً عَلِيْماً: إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.  
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنا إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنا إِبْرَاهِيْمَ، فِي العَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، 
وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنْ خُلَفَائِهِ الرَّاشِدِيْنَ، وَعَنْ أَزْوَاجِهِ أُمَّهَاتِ المُؤْمِنِيْنَ، وَعَنْ سَائِرِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ، وَعَنْ المُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
اللَّهُمَّ اجْعَلْ جَمْعَنَا هَذَا جَمْعاً مَرْحُوْماً، وَاجْعَلْ تَفَرُّقَنَا مِنْ بَعْدِهِ تَفَرُّقاً مَعْصُوْماً، وَلا تَدَعْ فِيْنَا وَلا مَعَنَا شَقِيًّا وَلا مَحْرُوْماً.اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالعَفَافَ وَالغِنَى.   
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ أَنْ تَرْزُقَ كُلاًّ مِنَّا لِسَاناً صَادِقاً ذَاكِراً، وَقَلْباً خَاشِعاً مُنِيْباً، وَعَمَلاً صَالِحاً زَاكِياً، وَعِلْماً نَافِعاً رَافِعاً، وَإِيْمَاناً رَاسِخاً ثَابِتاً، وَيَقِيْناً صَادِقاً خَالِصاً، وَرِزْقاً حَلاَلاً طَيِّباً وَاسِعاً، يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ.  
   اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَوَحِّدِ اللَّهُمَّ صُفُوْفَهُمْ، وَأَجمع كلمتهم عَلَى الحق، وَاكْسِرْ شَوْكَةَ الظالمين، وَاكْتُبِ السَّلاَمَ وَالأَمْنَ لِعَبادك أجمعين. اللَّهُمَّ رَبَّنَا احْفَظْ أَوْطَانَنَا وَأَعِزَّ سُلْطَانَنَا وَأَيِّدْهُ بِالْحَقِّ وَأَيِّدْ بِهِ الْحَقَّ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ. اللَّهُمَّ رَبَّنَا اسْقِنَا مِنْ فَيْضِكَ الْمِدْرَارِ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الذَّاكِرِيْنَ لَكَ في اللَيْلِ وَالنَّهَارِ، الْمُسْتَغْفِرِيْنَ لَكَ بِالْعَشِيِّ وَالأَسْحَار.ِ اللَّهُمَّ أَنْزِلْ عَلَيْنَا مِنْ بَرَكَاتِ السَّمَاء وَأَخْرِجْ لَنَا مِنْ خَيْرَاتِ الأَرْضِ، وَبَارِكْ لَنَا في ثِمَارِنَا وَزُرُوْعِنَا وكُلِّ أَرزَاقِنَا يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ 
.   رَبَّنَا آتِنَا في الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.   رَبَّنَا لا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا، وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً، إِنَّكَ أَنْتَ الوَهَّابُ.    رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الخَاسِرِيْنَ.   اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ 
سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدُّعَاءِ  .
عِبَادَ اللهِ...
 إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ